Selasa, 18 Agustus 2009

YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG PEMIMPIN

Didalam diri manusia terdapat dua bagian anatomis yang sangat penting untuk diketahui, yaitu:
a. Bagian penggerak yang disebut hati (Kalbu), dan
b. Bagian sarana yang disebut jasad (anggota badan).
Kemudian sarana ini dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian besar, yaitu:
a. Intelektualitas (akal)
b. Fisik, dan
c. Emosi
Jadi pada hakikatnya manusia terletak dalam empat bagian anatomis itu, yakni: hati (kalbu), intelektualitas (akal), fisik dan emosi yang dimilikinya. Oleh karena itu, pada dasarnya pemimpin yang baik adalah manusia yang baik kualitas hatinya, mantap kemampuan sarananya dalam bentuk yang cerdas dan sehat, dan matang emosinya. Namun, dari semuaitu hati manusia adalah faktor penentu sehingga kajian terhadap seorang calon pemimpin harus dimulai dari kualitas hatinya.

Rasulullah Saw., bersabda:
“Pada setiap manusia ada bagian yang amat strategis dimana bilangan itu baik maka bermamfaatlah seluruh tubuhnya, dan jika bagian itu buruk maka manusia itu pun menjadi mahluk perusak. Bagian strategis pada diri manusia tersebut adalah hati (kalbu)”.

Adapun fungsi pemimpin dalam suatu sistem sosial dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Motivator
Seorang pemimpin diharapkan mampu menggerakkan yang dipimpinnya untuk melakukan berbagai kegiatan social yang amat luas pengaruhnya terhadap nasib rakyat yang dipimpinnya.
2. Inovator
Seorang pemimpin diharapkan memiliki kreativitas dalam bentuk pikiran baru tentang aktivitas soaial yang perlu dilakukan oleh rakyat yang dipimpinnya.
3. Aspirator
Seorang pemimpin diharapkan dapat membawa aspirasi atau keinginan rakyat yang dipimpinnya dalam kehidupan social masyarakat.
4. Komunikator
Seorang pemimpin diharapkan menjdi penghubung diantara orang-orang yang dipimpinnya, terutama yang memiliki beberapa perbedaan pendapat atau mampu menyampaikan berbagai tugas (tanggungjawab sosial) yang perlu dilakukan oleh semua orang kepada masyarakat yang dipimpinnya.

System adalah kumpulan dari berbagai komponen yang terkait satu sama lain dan membentuk suatu kesatuan untuk melakukan suatu fungsi atau tujuan tertentu.


Oleh: Didin Samsudin, S.HI

YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG PEMIMPIN

Didalam diri manusia terdapat dua bagian anatomis yang sangat penting untuk diketahui, yaitu:

1. Bagian penggerak yang disebut hati (Kalbu), dan
2. Bagian sarana yang disebut jasad (anggota badan).

Kemudian sarana ini dapat dibagi lagi menjadi tiga bagian besar, yaitu:

1. Intelektualitas (akal)
2. Fisik, dan
3. Emosi

Jadi pada hakikatnya manusia terletak dalam empat bagian anatomis itu, yakni: hati (kalbu), intelektualitas (akal), fisik dan emosi yang dimilikinya. Oleh karena itu, pada dasarnya pemimpin yang baik adalah manusia yang baik kualitas hatinya, mantap kemampuan sarananya dalam bentuk yang cerdas dan sehat, dan matang emosinya. Namun, dari semuaitu hati manusia adalah faktor penentu sehingga kajian terhadap seorang calon pemimpin harus dimulai dari kualitas hatinya.

Rasulullah Saw., bersabda:

“Pada setiap manusia ada bagian yang amat strategis dimana bilangan itu baik maka bermamfaatlah seluruh tubuhnya, dan jika bagian itu buruk maka manusia itu pun menjadi mahluk perusak. Bagian strategis pada diri manusia tersebut adalah hati (kalbu)”.

Adapun fungsi pemimpin dalam suatu sistem sosial dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Motivator

Seorang pemimpin diharapkan mampu menggerakkan yang dipimpinnya untuk melakukan berbagai kegiatan social yang amat luas pengaruhnya terhadap nasib rakyat yang dipimpinnya.

2. Inovator

Seorang pemimpin diharapkan memiliki kreativitas dalam bentuk pikiran baru tentang aktivitas soaial yang perlu dilakukan oleh rakyat yang dipimpinnya.

3. Aspirator

Seorang pemimpin diharapkan dapat membawa aspirasi atau keinginan rakyat yang dipimpinnya dalam kehidupan social masyarakat.

4. Komunikator

Seorang pemimpin diharapkan menjdi penghubung diantara orang-orang yang dipimpinnya, terutama yang memiliki beberapa perbedaan pendapat atau mampu menyampaikan berbagai tugas (tanggungjawab sosial) yang perlu dilakukan oleh semua orang kepada masyarakat yang dipimpinnya.

System adalah kumpulan dari berbagai komponen yang terkait satu sama lain dan membentuk suatu kesatuan untuk melakukan suatu fungsi atau tujuan tertentu.

Kamis, 16 Juli 2009

SILSILAH KOTA CIANJUR

Pada awal berdirinya Ibukota Kabupaten Cianjur berada di Pamoyanan dan berlangsung relatif singkat. Pada masa pemerintahan Aria Wira Tanu III yang menjabat sebagai Bupati Cianjur dari tahun 1707-1726, Ibukota Kabupaten Cianjur pindah ke kampung Cianjur. Melalui tangan Aria Wira Tanu III inilah, Kampung Cianjur mengalami penataan sampai berhasil dikembangkan menjadi sebuah nagri yang layak menyandang sebutan Ibukota Kabupaten.

Atas perannya ini Aria Wira Tanu III dikenal sebagai pendiri Kabupaten Cianjur. Keberhasilan lainnya adalah menjadikan Cianjur sebagai sentra produsen kopi di Wilayah Priangan. Atas keberhasilannya ini juga, VOC memberi hadiah dalam bentuk Wilayah Politik kepada Bupati Cianjur ini. Hal ini terjadi untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Swoll, yang memerintah antara tahun 1713 sampai 1718. Daerah yang diberikan Van Swoll kepada Bupati Cianjur adalah Distrik Jampang yang terletak dibagian Timur Cianjur Selatan.

Saat itu Distrik Jampang diperkirakan telah dihuni oleh 300 Kepala Keluarga (huisgezinen). Pada masa Aria Wira Tanu IV memerintah antara tahun 1727–1761, Cianjur mengalami perluasan kembali dengan masuknya Wilayah Cibalagung serta Cikalong kedalam Wilayah Cianjur. Setelah kedatangan Daendels, Cianjur setidaknya mengalami tiga kali penataan wilayah.

Selain berupa penataan wilayah, pengaruh kehadiran Daendels di Cianjur juga dirasakan dalam bentuk pembangunan infrastruktur seperti halnya jalan raya. Pada tahun 1808, dibangun sebuah Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang menghubungkan ujung Barat dan ujung Timur Pulau Jawa. Dengan masuknya Cianjur sebagai wilayah yang dilalui Jalan Raya Pos ini, maka untuk Jawa bagian Barat, pembangunan jalan ini antara lain melalui Batavia-Buitenzorg-Puncak-Cianjur-Bandung-Sumedang. Disamping jalan dibangun pula jembatan, salah satu diantaranya adalah jembatan yang melintasi Sungai Cisokan. Beralihnya kekuasaan dari pemerintah Kolonial Belanda kepada Inggris pada Tahun 1811, dalam waktu relatif singkat kembali membawa pengaruh terhadap keberadaan Wilayah Cianjur.

Munculnya Cianjur sebagai sebuah Wilayah Politik memiliki keterkaitan erat dengan terjadinya perpindahan kesatuan masyarakat atau cacah keturunan Aria Wangsa Goparana dari daerah Sagaraherang ke wilayah-wilayah di sepanjang aliran sungai yang ada di Cianjur seperti Cibalagung, Cirata dan Sungai Cijagang atau Cikundul.

Sebagaimana penduduk Priangan lainnya, penduduk Cianjur memiliki latar belakang Etnis Sunda. Pada umumnya masyarakat Sunda memiliki mata pencaharian utama bertani. Ada tiga tanaman yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Cianjur, yaitu kapas, tarum dan kopi.

Sejak dasawarsa pertama abad ke-19, Cianjur sudah tidak hanya didiami penduduk pribumi semata tetapi juga sudah didiami penduduk golongan lain. Khususnya golongan Eropa dan Cina yang secara tidak langsung memperlihatkan posisi penting di Cianjur secara ekonomis.

Disamping Padaleman Cikundul, saat itu di Cianjur dikenal beberapa padaleman lain, seperti Padaleman Cipamingkis, Cimapag, Cikalong, Cibalagung dan Cihea. Yaitu pada saat Cianjur dipimpin oleh Raden Aria Wira Tanu Datar IV yang terkenal sebagai Bupati yang taat dalam menjalankan agama. Bupati ini juga memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni budaya, khususnya seni bela diri Pencak Silat.

SILSILAH KOTA CIANJUR

Pada awal berdirinya Ibukota Kabupaten Cianjur berada di Pamoyanan dan berlangsung relatif singkat. Pada masa pemerintahan Aria Wira Tanu III yang menjabat sebagai Bupati Cianjur dari tahun 1707-1726, Ibukota Kabupaten Cianjur pindah ke kampung Cianjur. Melalui tangan Aria Wira Tanu III inilah, Kampung Cianjur mengalami penataan sampai berhasil dikembangkan menjadi sebuah nagri yang layak menyandang sebutan Ibukota Kabupaten.

Atas perannya ini Aria Wira Tanu III dikenal sebagai pendiri Kabupaten Cianjur. Keberhasilan lainnya adalah menjadikan Cianjur sebagai sentra produsen kopi di Wilayah Priangan. Atas keberhasilannya ini juga, VOC memberi hadiah dalam bentuk Wilayah Politik kepada Bupati Cianjur ini. Hal ini terjadi untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Swoll, yang memerintah antara tahun 1713 sampai 1718. Daerah yang diberikan Van Swoll kepada Bupati Cianjur adalah Distrik Jampang yang terletak dibagian Timur Cianjur Selatan.

Saat itu Distrik Jampang diperkirakan telah dihuni oleh 300 Kepala Keluarga (huisgezinen). Pada masa Aria Wira Tanu IV memerintah antara tahun 1727–1761, Cianjur mengalami perluasan kembali dengan masuknya Wilayah Cibalagung serta Cikalong kedalam Wilayah Cianjur. Setelah kedatangan Daendels, Cianjur setidaknya mengalami tiga kali penataan wilayah.

Selain berupa penataan wilayah, pengaruh kehadiran Daendels di Cianjur juga dirasakan dalam bentuk pembangunan infrastruktur seperti halnya jalan raya. Pada tahun 1808, dibangun sebuah Jalan Raya Pos (Grote Postweg) yang menghubungkan ujung Barat dan ujung Timur Pulau Jawa. Dengan masuknya Cianjur sebagai wilayah yang dilalui Jalan Raya Pos ini, maka untuk Jawa bagian Barat, pembangunan jalan ini antara lain melalui Batavia-Buitenzorg-Puncak-Cianjur-Bandung-Sumedang. Disamping jalan dibangun pula jembatan, salah satu diantaranya adalah jembatan yang melintasi Sungai Cisokan. Beralihnya kekuasaan dari pemerintah Kolonial Belanda kepada Inggris pada Tahun 1811, dalam waktu relatif singkat kembali membawa pengaruh terhadap keberadaan Wilayah Cianjur.

Munculnya Cianjur sebagai sebuah Wilayah Politik memiliki keterkaitan erat dengan terjadinya perpindahan kesatuan masyarakat atau cacah keturunan Aria Wangsa Goparana dari daerah Sagaraherang ke wilayah-wilayah di sepanjang aliran sungai yang ada di Cianjur seperti Cibalagung, Cirata dan Sungai Cijagang atau Cikundul.

Sebagaimana penduduk Priangan lainnya, penduduk Cianjur memiliki latar belakang Etnis Sunda. Pada umumnya masyarakat Sunda memiliki mata pencaharian utama bertani. Ada tiga tanaman yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat Cianjur, yaitu kapas, tarum dan kopi.

Sejak dasawarsa pertama abad ke-19, Cianjur sudah tidak hanya didiami penduduk pribumi semata tetapi juga sudah didiami penduduk golongan lain. Khususnya golongan Eropa dan Cina yang secara tidak langsung memperlihatkan posisi penting di Cianjur secara ekonomis.

Disamping Padaleman Cikundul, saat itu di Cianjur dikenal beberapa padaleman lain, seperti Padaleman Cipamingkis, Cimapag, Cikalong, Cibalagung dan Cihea. Yaitu pada saat Cianjur dipimpin oleh Raden Aria Wira Tanu Datar IV yang terkenal sebagai Bupati yang taat dalam menjalankan agama. Bupati ini juga memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni budaya, khususnya seni bela diri Pencak Silat.

Jumat, 10 Juli 2009

IJTIHAD KONTEMPORER

Pendapat Ibnu Urfah, yang dikutif oleh Al-Ubay dalam “Syarah Muslim”, yaitu:

Ketahuilah, sesungguhnya ijtihad yang pada abad ke-14 ini, lebih mudah dibandingkan ijtihad yang terjadi pada zaman dimana Ubay, Ibnu Urfah dan ulama yang sebelumnya.

Ungkapan orang bijak:

“Katakanlah bagi orang yang tidak melihat apapun dari yang modern dan melihat segala sesuatu pada orang yang dahulu. Sesungguhnya (sesuatu) yang dahulu tadinya adalah baru, dan yang baru itu pun akan menjadi lama”.

Disebutkan dalam hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi dan lainnya dari Nabi Saw:

“Perumpamaan umatku bagaikan hujan yang tidak diketahui, apakah yang awal itu baik ataukah yang terakhir itu yang baik?”.

Al-Jami ‘Ash-Shaghir, menisbatkan hadits itu kepada Ahmad dan Tirmidzi dari hadits Annas, dan kepada Ahmad dari Ammar. Ibnu Hajar dalam Fathu al-Baari, berpendapat bahwa hadits itu adalah hasan, karena mempunyai beberapa jalan yang dapat naik pada tingkat shohih. (Faidh al-Qadir, Jilid V, hlm. 517)


oleh : Didin Samsudin, S.HI

Selasa, 07 Juli 2009

Sejarah Hukum Islam

Dalam bidang fiqh  seperti  juga  dalam  bidang-bidang  yang
lain masa Tabi'in adalah masa peralihan dari masa sahabat
Nabi dan masa tampilnya imam-imam madzhab. Di satu pihak
masa itu bisa disebut sebagai kelanjutan wajar masa sahabat
Nabi, di lain pihak pada masa itu juga mulai disaksikan
munculnya tokoh-tokoh dengan sikap yang secara nisbi lebih
mandiri, dengan penampilan kesarjanaan di bidang keahlian
yang lebih mengarah pada spesialisasi.

Yang disebut "para pengikut" (makna kata Tabi'in) ialah kaum
Muslim generasi kedua (mereka menjadi Muslim ditangan para
Sahabat Nabi). Dalam pandangan keagamaan banyak ulama masa
Tabi'in itu, bersama dengan masa para Sahabat sebelumnya dan
masa Tabi'in al-Tabi'in ("para pengikut dari para pengikut"
yakni, kaum Muslim generasi ketiga), dianggap sebagai
masa-masa paling otentik dalam sejarah Islam, dan ketiga
masa itu sebagai kesatuan suasana yang disebut salaf
(Klasik).

Walaupun begitu tidaklah berarti masa generasi kedua ini
bebas dari persoalan dan kerumitan. Justru sifat
transisional masa ini ditandai berbagai gejala kekacauan
pemahaman keagamaan tertentu, yang bersumber dari sisa dan
kelanjutan berbagai konflik politik, terutama yang terjadi
sejak peristiwa pembunuhan 'Utsman, Khalifah III. Tumbuhnya
partisan-partisan politik yang berjuang keras memperoleh
pengakuan dan legitimasi bagi klaim-klaim mereka, seperti
Khawarij, Syi'ah, Umawiyyah, dan sebagainya, telah mendorong
berbagai pertikaian paham. Dan pertikaian itu antara lain
menjadi sebab bagi berkecamuknya praktek pemalsuan hadits
atau penuturan dan cerita tentang Nabi dan para sahabat.
Melukiskan keadaan yang ruwet itu Musthafa al-Siba'i
mengetengahkan keterangan di bawah ini.

Tahun empat puluh Hijriah adalah batas pemisah antara
kemurnian Sunnah dan kebebasannya dari kebohongan dan
pemalsuan di satu pihak, dan ditambah-tambahnya Sunnah itu
serta digunakannya sebagai alat melayani berbagai
kepentingan politik dan perpecahan internal Islam. Khususnya
setelah perselisihan antara 'Ali dan Mu'awiyah berubah
menjadi peperangan dan yang banyak menumpahkan darah dan
mengorbankan jiwa, serta setelah orang-orang Muslim
terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok. Sebagian besar
orang-orang Muslim memihak 'Ali dalam perselisihannya dengan
Mu'awiyah, sedangkan kaum Khawarij menaruh dendam terhadap
'Ali dan Mu'awiyah sekaligus setelah mereka itu sendiri
sebelumnya merupakan pendukung 'Ali yang bersemangat.
Setelah 'Ali r.a. wafat dan Mu'awiyah habis masa
kekhilafahannya (juga wafat) anggota rumah tangga Nabi (Ahl
al-Bayt) bersama sekelompok orang-orang Muslim menuntut hak
mereka akan kekhalifahan, serta meninggalkan keharusan taat
pada Dinasti Umayyah.

Begitulah, peristiwa-peristiwa politik menjadi sebab
terpecahnya kaum Muslim dalam berbagai golongan dan partai.
Disesalkan, pertentangan ini kemudian mengambil bentuk sifat
keagamaan, yang kelak mempunyai pengaruh yang lebih jauh
bagi tumbuhnya aliran-aliran keagamaan dalam Islam. Setiap
partai berusaha menguatkan posisinya dengan al-Qur'an dan
Sunnah, dan wajarlah bahwa al-Qur'an dan Sunnah itu untuk
setiap kelompok tidak selalu mendukung klaim-klaim mereka.
Maka sebagian golongan itu melakukan interpretasi al-Qur'an
tidak menurut hakikatnya dan membawa nash-nash Sunnah pada
makna yang tidak dikandungnya. Sebagian lagi meletakkan pada
lisan Rasul hadits-hadits yang menguatkan klaim mereka,
setelah hal itu tidak mungkin mereka lakukan terhadap
al-Qur'an karena ia sangat terlindung (terpelihara) dan
banyaknya orang Muslim yang meriwayatkan dan membacanya.

Dari situlah mulai pemalsuan Hadits dan pencampuradukan yang
sahih dengan yang palsu. Sasaran pertama yang dituju para
pemalsu hadits itu ialah sifat-sifat utama para tokoh. Maka
mereka palsukanlah banyak hadits tentang kelebihan imam-imam
mereka dan para tokoh kelompok mereka. Ada yang mengatakan
bahwa yang pertama melakukan hal itu ialah kaum Syi'ah
-dengan perbedaan berbagai kelompok mereka- sebagaimana
dituturkan Ibn Abi al-Hadid dalam Syarh Nahj al-Balaghah,
"Ketahuilah bahwa pangkal kebohongan dalam hadits-hadits
tentang keunggulan (tokoh-tokoh) muncul dari arah kaum
Syi'ah..." Tapi kemudian diimbangi orang-orang bodoh dari
kalangan Ahl al-Sunnah dengan perbuatan pemalsuan juga. [1]

Dihadapkan keruwetan itu, para Tabi'in -dengan dipimpin
tokoh-tokoh yang mulai tumbuh dengan penampilan kesarjanaan-
mencoba melakukan sesuatu yang amat berat namun kemudian
membuahkan hasil yang agung, yaitu penyusunan dan pembakuan
Hukum Islam melalui fiqh atau "proses pemahaman" yang
sistimatis.
Mendefinisikan komputer generasi kelima menjadi cukup sulit karena tahap ini masih sangat muda. Contoh imajinatif komputer generasi kelima adalah komputer fiksi HAL9000 dari novel karya Arthur C. Clarke berjudul 2001: Space Odyssey.

Jumat, 03 Juli 2009

Cara Praktis Promosi Blog

Istriku begitu senang setelah melaksanakan Wisuda.

Kebahagiaan

Manusia pada dasarnya harus memiliki pemikiran bahwa kita dilahirkan kedunia untuk mencapai kebahagiaan. Jalannya, banyak cara untuk menempuh kebahagiaan. Salahsatunya kita selalu mendekatkan diri kepada Sangpencipta (Allah SWT)