Bumi tempat kita berpijak dan beraktivitas. Kekuasan kita terhadap realitas tak selamanya berjalan dalam garis lurus akan tetapi semuanya pasti mengalami kesenjangan yang berliku. Kelihatan yang nyata bumi memang masih bulat, tetapi ia kini tak lebih dari sebuah bola kaki. Manusia memang masih berkaki dan bertangan dua, tetapi kini ia tidak perlu lagi menggunakan kaki dan tangan tersebut untuk berjalan dan bertepuk. Bangunan gedung memang masih berdiri megah, tetapi kita cukup menghuni bangunan yang ada di dalam halusinasi dan ilusi kita. Akuarium memang masih berbentuk kotak, tetapi ia tidak lagi memerlukan air dan ikan yang nyata. Anak-anak kita memang masih senang bermain, tetapi kini mereka cukup bermain dengan teman-teman cyberspace (maya) mereka di dalam jagat raya video games.
Masyarakat kita pada umumnya tengah memasuki pintu sebuah dunia baru yang harum dengan teknologi baru, yang di dalamnya apa pun yang dapat dilakukan di dunia nyata semuanya dapat dilakukan dengan tingkat pengalaman yang sama di dalam jagat raya cyberspace. Jagat raya cyberspace itu dianggap lebih menyenangkan dibandingkan dunia itu sendiri. Bahkan, segala sesuatu dikehidupan sebelumnya dan di masa lalu dianggap sebagai "fantasi", halusinasi atau ilusi yang kini dapat dialami sebagai sebuah "realitas" yang nyata dihadapan kiata. Hal ini karena dunia fantasi, halusinasi, dan ilusi itu dengan batuan teknologi simulasi kini telah tumpang tindih dengan dunia realitas sehingga di antara keduanya tidak dapat dibedakan lagi. Semuanya kini menjadi sebuah pristiwa sehari-hari yang benar-benar tampak nyata. Inilah dunia cyberspace, yang realitasnya adalah relitas virtual (virtual reality).
Istilah cyberspace, pertama kali diperkenalkan oleh seorang novelis fiksi ilmiah yaitu William Gibson, di dalam bukunya Neoromancer. Ia mengatakan cyberspace adalah sebuah halusinasi yang dialami oleh jutaan orang setiap hari berupa representasi grafis yang sangat komplek dari data didalam sistem pikiran manusia yang diabstraksikan dari bank data setiap komputer. Cyberspace menawarkan pada manusia untuk hidup didunia alternatif yaitu dunia maya sebagai subtansi realitas; dan atau sebuah dunia yang dapat mengambil alih untuk menggantikan realitas tersebut, yang lebih fantastis daripada fantasi yang ada.
Hal ini dapat dikatakan sebuah dunia "yang melampaui realitas" yang ada. Dunia realitas yang melampaui dan bersifat artifisial ini menjelajah hampir setiap realitas yang ada, yang pada suatu ketika nanti akan mengambil alih secara total realitas-realitas tersebut. Kenyataan tersebut akan menimbulkan pertanyaan, apabila dunia artifisial dapat menghasilkan kesenangan, kepuasan yang lebih kaya, kegairahan yang lebih beragam, dan yang lebih tinggi. Dari sini dapat kita ungkapkan, apakah kita masih memerlukan realitas itu sendiri? Apabila kita tidak perlu lagi realitas, apakah ia harus kita tinggalkan, hancurkan, bunuh, serang, untuk kemudian digantikan sepenuhnya oleh realitas-realitas artifisial?
Diterjemahkan, realitas adalah sebuah konsep yang kompleks, yang syarat dengan pertanyaan filosofis. Misalnya, apakah bola yang kita lihat, lagu yang kita dengar, kursi yang kita duduki adalah realitas yang sesunggunhnya? Atau, ia hanya permukaan dan, atau kulit luar dari realitas? Ada sebuah konsep filosofis yang mengatakan bahwa yang kita lihat itu bukanlah relitas, melainkan representasi atau tanda (sign) dari realitas yang sesungguhnya, yang tidak dapat kita tangkap. Yang dapat kita tangkap hanyalah tampilan dari realitas dibaliknya (Zak Van Straaten, 1981; 202).
Disamping itu, ada beberapa keterbatasan manusia dalam menangkap realitas. Daya tangkap manusia terhadap realitas sangat dibatasi oleh ruang dan waktu. Manusia tidak dapat mengalami dua realitas yang berbeda di dalam ruang dan waktu secara simultan (bersamaan). Ia tidak bisa hidup di "Jakarta" dan di "Paris" dalam waktu yang bersamaan. Ia tidak dapat hidup pada zaman batu dan pada zaman posmodern secara simultan.
Waktu akan menjawab dari semua keterbatasan manusia terhadap realitas. Disini perkembangan teknologi realitas virtual dianggap mampu memecahkan segala keterbatasan manusia untuk mengembara di dalam berbagai bentuk realitas yang tanpa batas. Oleh karena itu, munculah berbagai optimismem dalam menyongsong sebuah abad ketika ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan bagi umat manusia dalam menjelajahi duania realitas tersebut. Realitas virtual dianggap dapat memperkaya kemampuan manusia dalam merumuskan realitasnya sendiri. Maksud dari semua itu, bahwa manusia mempunyai peluang besar untuk menciftakan realitas baru yang tidak pernah dialami sebelumnya. Manusia mempunyai kekuasaan dalam memilih realitas yang diinginkannya, tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Dengan segala kemampuannya itu, realitas virtual dianggap sebagai sebuah "revolusi realitas". Ia menjadi sebuah tempat bagi setiap orang untuk menemukan demokrasi yang sangat luas dalam menentukan realitas hidupnya. Di dalam cyberspace, orang tidak berdiri pasif di hadapan jutaan citraan yang ditawarkannya. Sebaliknya mereka dapat secara aktif berperan sebagai "subjek" yang merdeka; menolak hal yang tidak berkenan, mengkritik pendapat yang tidak masuk akal, memprotes opini yang tidak disenangi, mengubah bentuk-bentuk yang tidak disukai..sebagaimana yang dikatakan oleh Howard Rheingold di dalam virtual reality, apabila dihubungkan dengan sistem jaringan distribusi global seperti infrastruktur telekomunikasi, teknologi virtual akan memberikan kekuasaan kepada banyak orang, bukan segelintir orang saja. Di dalamnya, setiap orang memiliki "kekuasaan" untuk menentukan pandangan hidupnya sendiri, untuk menyusun ideologinya sendiri, untuk merangkai identitasnya sendiri yang unik. Di dalam dunia global yang nantinya akan dihuni oleh sepuluh miliaran manusia, barangkali cyberspace adalah tempat yang lebih baik untuk membuat orang bahagia, di setiap waktu. Maka semakin maju perkembangan teknologi virtual, semakin lebih baik kondisi kehidupan manusia global. Inilah optimisme terhadap jagat raya cyberspace.
Oleh: Didin Samsudin
Reperensi :
- Zak Van Straaten, Basic Concepts of Philosodhy, Press, 1991.
- Mark Slouka, Ruang Yang Hilang; Pandangan Humanis tentang Budaya Cyberspace yang Merisaukan, Mizan, 1999.